Masjid Raya Sheikh Zayed Solo: Simbol Persahabatan, Toleransi, dan Destinasi Wisata Religi yang Memikat

- 31 Maret 2024, 19:56 WIB
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo.
Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. /@mrszs_solo/Instagram

JURNAL NGAWI - Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, yang terletak di Jl. Ahmad Yani No.128 Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah, bukan hanya sebuah monumen keagamaan megah, tetapi juga menjadi simbol persahabatan dan toleransi lintas budaya.

Dalam sebuah acara Talkshow Bedah Buku 9 Jam Faham Bahasa Arab Al-Qur’an yang digelar di Pelataran Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Sabtu (30/3/2024), Wakil Direktur Operasional Masjid tersebut, Bagus Sigit Setiawan, menegaskan bahwa masjid ini dibangun atas kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA). Kesepakatan awal tersebut menekankan pentingnya keberagaman budaya dan agama yang dapat bersatu.

Selain menjadi ikon kerjasama internasional, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo juga menjadi titik pertemuan bagi orang-orang dari berbagai latar belakang, menciptakan dialog dan pemahaman lintas budaya dan agama. Bagus menambahkan bahwa perpustakaan masjid ini secara rutin menggelar kajian tentang relasi agama dan budaya yang melibatkan berbagai stakeholder dari lintas agama.

Dengan harmoni agama, seni arsitektur, dan persahabatan internasional, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo menjadi bukti konkret bahwa keindahan spiritual dan kekayaan budaya dapat bersatu dalam satu tempat. Meskipun merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, UEA, masjid ini juga menerapkan unsur arsitektur lokal, termasuk lantai utama yang dihiasi dengan ukiran batik.

Destinasi Wisata Religi

Masjid Raya Sheikh Zayed Solo telah menjadi daya tarik bagi wisatawan dari seluruh dunia. Dengan dua lantai, empat menara, dan satu kubah utama, masjid ini menjadi salah satu daya tarik utama di kota Surakarta. Tidak kurang dari 82 kubah dihiasi dengan batu pualam putih, menciptakan nuansa emas dan putih yang memikat.

Daya tampungnya yang mencapai 15 ribu jamaah secara keseluruhan, menjadikan masjid ini sebagai tempat beribadah yang luas. Selain itu, masjid ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang ramah bagi difabel, anak-anak, dan ibu hamil, termasuk penggunaan lift untuk memudahkan aksesibilitas bagi mereka yang ingin mengambil air wudu.

Tidak hanya menjadi tempat ibadah, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo juga menyediakan kotak infak QRIS untuk berinfak secara konvensional dan digital. Bagus menjelaskan bahwa meskipun awalnya Pemerintah UEA menolak, mereka berhasil meyakinkan bahwa kotak infak tersebut adalah layanan yang diberikan kepada jemaah yang ingin bersedekah.

Dana infak yang terkumpul dikelola melalui Unit Pengelola Zakat dari BAZNAS provinsi, dan disalurkan kembali kepada masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. Inovasi-inovasi ini diharapkan dapat menginspirasi masjid-masjid lainnya, baik dalam hal keberagaman maupun pemanfaatan teknologi untuk memperluas pelayanan kepada umat.

Halaman:

Editor: Hafidz Muhammad Reza


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah