4 Wisata Religi Paling Populer di Banyuwangi, Ziarah ke Makam Bersejarah di Bumi Blambangan

- 23 Mei 2024, 06:39 WIB
Masjid Muhammad Cheng Hoo
Masjid Muhammad Cheng Hoo /Ig ponpes Cheng Hoo Banyuwangi

Konon dahulu Syekh Wali Lanang yang lebih dikenal dengan sebutan Maulana Ishak diperintah menyebarkan agama Islam di Banyuwangi oleh Sunan Ampel. Saat itu, Banyuwangi merupakan kerajaan Hindu yang bernama Blambangan dengan rajanya Prabu Menak Sembuyu.

Karena berhasil menyembuhkan penyakit cucu sang raja yang bernama Putri Sekar Dadu, Maulana Ishakpun dinikahkan dengan putri yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sayu Atikah, serta diperbolehkan menyebarkan agama Islam di wilayah Blambangan. Namun karena melanggar aturan kerajaan, keduanya diusir dari istana dan anak mereka yang masih bayi dibuang ke laut sampai akhirnya ditemukan oleh nahkoda kapal.

Nahkoda tersebut kemudian memberikan bayi yang ditemukannya kepada seorang saudagar perempuan dari Gresik yang bernama Nyai Ageng Pinatih. Dikemudian hari bayi yang bernama Raden Muhammad Ainul Yakin atau Raden Paku tersebut menjadi satu satu Wali Sanga yang dikenal dengan nama Sunan Giri.

Baca Juga: Waduk Sangiran, Rekomendasi Destinasi Wisata Alami Nan Memikat di Ngawi, Jawa Timur

3. Masjid Baiturrahman

Didirikan pada 7 Desember 1773 membuat masjid yang berlokasi tidak jauh dari Pendopo Bupati dan Taman Sri Tanjung tepatnya di JL Jenderal Sudirman ini menjadi masjid tertua di Banyuwangi dan menjadi saksi bisu masuknya agama Islam di ujung Timur Pulau Jawa.

Dalam perkembangannya, masjid dua tingkat yang memiliki daya tampung sebanyak 5.100 jamaah ini mengalami empat kali renovasi, sehingga kini menjadi bangunan yang megah dan indah.

Pesona bangunan Masjid Baiturrahman sudah dapat dinikmati dari sisi luar lewat 11 kubahnya dengan kubah utama dapat digeser secara otomatis, sehingga mereka yang berada di dalam masjid dapat melihat langit secara langsung. Penggunaan teknologi ini merupakan satu-satunya di Indonesia.

Sementara desain arsitektur yang diusung, baik sisi eksterior maupun interiornya menggunakan perpaduan gaya arsitektur Arab dan Banyuwangi lewat ornamen-ornamen berbentuk batik Gajah Oling di berbagai sudutnya, sehingga terlihat begitu menawan.

Satu lagi yang menjadi daya tarik dari Masjid ini adalah keberadaan mushaf Al-Qur’an raksasa berukuran 210 x 140 cm2 dengan bagian luar berlapis kayu jati. Al-Qur’an yang ditulis tangan oleh H.Abdul Karim tersebut hanya dibuka dan dibaca setahun sekali yaitu  pada acara tadarus Al-Qur’an dibulan Ramadhan.

4. Masjid Muhammad Cheng Hoo

Diresmikan pada 26 November 2016, Masjid Muhammad Cheng Hoo kesepuluh ini memiliki luas bangunan 28 x 26 meter2. Sama halnya dengan Masjid Muhammad Cheng Hoo lainnya yang dibangun oleh PITI (Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia), bentuk bangunannya mengadopsi gaya arsitektur China.

Halaman:

Editor: Zayyin Multazam Sukri


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah